Sejarah islam
- Dalam konflik Israel-Palestina, sering kita dengar mengenai kelompok Hamas. Apa itu kelompok Hamas?
Dalam buku Islam Moderat dan Isu-Isu Kontemporer (2019) karya Ayang Utriza Yakin, DEA., Ph.D., disebutkan bahwa Hamas adalah gerakan nasionalis-agamis yang menggabungkan dakwah damai Islam dengan strategi perjuangan bersenjata. Kelompok ini berjuang membebaskan Palestina dari penjajahan Israel.
Dalam artikel ini, akan kita ulas secara lengkap apa itu Hamas, mulai dari sejarah pembentukan, para tokoh, hingga kegiatannya.
Sejarah Hamas
Nama Hamas berasal dari 'Harakat al-Muqawamah al-Islamiyyah' yang berarti Gerakan Pertahanan Islam. Hamas memiliki makna 'semangat'.
Meski organisasi ini berdiri pada 14 Desember 1987, Hamas sebetulnya sudah ada jauh sebelum munculnya konflik Israel-Palestina.
Hamas sebelumnya merupakan bagian dari Ikhwanul Muslimin (IM) di Mesir. Anggota IM di Palestina mendirikan cabang IM di Palestina pada 1946. Setelah Israel berdiri, IM Palestina mulai berjuang setelah perang tahun 1967.
Setelah intifadah pertama pecah, pimpinan IM Palestina mendirikan organisasi yang lebih terarah dan tertib untuk mencapai satu tujuan, yaitu Hamas. Selain Hamas, ada juga kelompok Fatah yang bertujuan sama, namun mengedepankan negosiasi dan perdamaian.
Setelah perjanjian damai Organisasi Pembebasan Palestina (Palestine Liberation Organization) yang diwakili oleh Fattah Yasir Arafat ditolak Israel pada 1993, Hamas semakin terlihat dengan perjuangannya melalui angkat senjata.
Hamas kemudian tidak sekadar berjuang dengan berperang, tetapi juga melakukan kerja sosial. Hal inilah yang membuat masyarakat Palestina semakin simpati dengan mereka. Kelompok ini kemudian menjadi partai politik dan memenangi Pemilu 2006.
Tokoh Hamas
Tokoh Hamas ada beberapa orang. Berikut ini lima tokoh Hamas yang dikutip dari penelitian di ui.ac.id:
1. Syekh Ahmad Yasin
Dalam Perang Enam Hari antara Arab dengan Israel tahun 1967, usia Yasin baru 12 tahun. Dia pun terpaksa pindah ke Gaza. Tahun 1982, dia memimpin "Mujahidin Palestina" sampai dipenjara selama 13 tahun.
Saat Hamas terbentuk, dia diangkat sebagai pemimpin spiritual di kelompok tersebut. Namun tekanan yang keras dari para pejuang Palestina membuat Israel membebaskan Yasin pada 1 Oktober 1997.
Yasin meninggal dunia pada tanggal 22 Maret 2004 usai melaksanakan sholat Subuh. Israel saat itu membombardir Palestina dengan misil helikopter.
2. Abdul Aziz Ar-Rantisi
Abdul Aziz Ar-Rantisi juga termasuk orang yang membidani kelahiran Hamas bersama Syekh Ahmad Yasin. Rantisi pernah belajar ilmu kedokteran di Mesir selama 9 tahun dan mendapatkan sertifikat sebagai dokter.
Tahun 1976 dia kembali ke Gaza dan bergabung dengan Ikhwanul Muslimin Palestina. Dia juga sempat ditangkap Israel, namun dia dibebaskan pada tahun 1997.
Sebulan setelah kematian Yasin, tentara Israel membunuh Rantisi melalui serangan misil yang diarahkan ke mobilnya pada tanggal 17 April 2004.
3. Ismail Haniya
Ismail Haniya lahir di salah satu kamp pengungsian di Gaza, yaitu Ash-Shati. Dia tumbuh dibina oleh Ikhwanul Muslimin.
Setelah pembebasan pimpinan Hamas tahun 1997, Haniya diangkat oleh Syekh Ahmad Yasin sebagai kepala kantor Hamas. Dia terpilih menjadi pemimpin Hamas yang akan mengikuti Pemilu Legislatif Palestina tahun 2006.
4. Khaled Meshaal
Khaled Meshaal adalah pejuang Palestina yang pernah diasingkan. Dia adalah pemimpin politik Hamas di Suriah dan pemimpin Hamas sejak pembunuhan Syekh Ahmad Yasin pada tahun 2004.
5. Nizar Rayyan
Nizar Rayyan adalah komandan militer senior Hamas. Dia sempat menjadi seorang profesor syariat Islam di Universitas Islam di Gaza. Dia meninggal dunia dalam agresi militer Israel di Jalur Gaza.
Kegiatan-kegiatan Hamas
Kegiatan Hamas bisa dibagi menjadi dua, yaitu bidang sosial keagamaan dan bidang politik militer.
Berikut ini sejumlah kegiatan Hamas yang dikutip dari buku Hamas, Ikon Perlawanan Islam Terhadap Zionisme Israel (2009) oleh Bawono Kumoro:
Bidang Sosial Keagamaan
Hamas bukan kelompok yang hanya berjuang lewat pertempuran, tetapi juga merupakan gerakan Islam yang kegiatannya seperti memakmurkan masjid. Gerakan-gerakan seperti inilah yang membuat Hamas sangat mengakar pada tingkat akar rumput.
Hamas juga menyediakan fasilitas kesehatan, pendidikan, amal, pembangunan panti asuhan, pembentukan kelompok-kelompok olahraga, seni, dan budaya.
Kegiatan Hamas sangat mengandalkan sumbangan yang tidak mengikat, baik dari lingkungan internal Palestina maupun eksternal.
Bidang Politik dan Militer
Di bidang politik dan militer, Hamas melanjutkan yang dilakukan Ikhwanul Muslimin.
Pada tahun 1987-1993, Hamas lebih banyak melakukan propaganda lewat penerbitan buku-buku, pamflet, brosur, dan sebagainya untuk membangkitkan semangat rakyat Palestina.
Hamas juga mengembangkan berbagai bentuk perlawanan sipil, seperti demonstrasi, boikot, kerusuhan massal, dan berbagai tindakan non-kooperatif lainnya. Dan tentunya Hamas juga berjuang melawan Israel dengan mengangkat senjata.
Demikian tadi telah kita ketahui bahwa Hamas adalah gerakan perjuangan untuk membebaskan Palestina dari penjajahan Israel. Telah kita ketahui pula sejarah, para tokoh, hingga kegiatan Hamas.
"
Anas-Muhammad / Shutterstock
Konflik Israel-Palestina adalah salah satu konflik era modern paling lama dan paling ganas yang belum selesai sampai sekarang. Ada berbagai hal yang jadi penyebab terjadinya konflik ini, termasuk keterlibatan berbagai aktor, salah satunya adalah Hamas.
Kami mencoba menggambarkan enam ciri khas dari Hamas, sebuah organisasi dengan tujuan konkret, ideologi yang relatif jelas dan pendekatan metodologis yang dapat diidentifikasi untuk mencapai tujuan.
Hamas adalah organisasi yang digagas oleh pemimpin agama (syekh) Ahmad Yasin dan Didirikan pada tahun 1987 saat konflik Palestina-Israel memuncak.
Hamas muncul sebagai oposisi terhadap Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) , yang saat itu dipegang oleh pimpinan pemerintah Palestina Yasser Arafat, yang terinspirasi oleh sosialisme dan nasionalisme. Para pendiri Hamas berpendapat bahwa PLO gagal membela kepentingan rakyat Palestina dan justru cenderung mendukung apa yang mereka lihat sebagai penjajah Israel atas wilayah Palestina.
1. Apa ideologi Hamas?
Ideologi Hamas menggabungkan nasionalisme dan Islamisme politik Ikhwanul Muslimin yang berasal dari Mesir .
Dalam hal agama, mereka bisa dikatakan beraliran Salafi, dan karena itu menganut interpretasi Islam yang ketat. Dengan demikian, jalan politik mereka adalah menggerakkan negara Palestina (nasionalisme) menuju yang diatur oleh syariat alias hukum Islam.
2. Apa yang mereka inginkan?
Apa yang diinginkan oleh Hamas dengan jelas adalah pendirian sebuah negara Palestina.
Namun, yang masih dipersoalkan adalah wilayah negara tersebut. Sejak awal Hamas menginginkan sebuah negara Palestina yang mencakup Tepi Barat, Gaza, dan wilayah yang sekarang diduduki oleh negara Israel. Bahkan, mereka menentang keras perjanjian Perdamaian Oslo 1993 antara PLO dan pemerintah Israel.
Dalam hal ini, mereka sama saja menolak untuk menjadi bagian dari Otoritas Nasional Palestina, otoritas yang mulai diakui secara internasional–meskipun tidak secara bulat–sebagai otoritas Palestina yang sah dan cikal bakal negara Palestina di masa depan.
3. Penyangkalan terhadap negara Israel
Meskipun ada perubahan dalam pernyataan-pernyataan publik para pemimpinnya, penyangkalan terhadap keabsahan Israel sebagai sebuah negara menjadi tekanan bagi Israel.
4. Metode operasi Hamas
Cara Hamas untuk mencapai tujuan politiknya adalah dengan menggabungkan mobilisasi sosial, organisasi politik, dan negosiasi dengan penggunaan kekerasan. Oleh karena itu, Hamas secara umum dianggap sebagai kelompok jihadis, dalam artian mereka tidak meninggalkan kekerasan sebagai strategi politik untuk mencapai tujuan.
Perlu klarifikasi lebih lanjut mengenai modus operandi Hamas. Namun, Hamas bukanlah kelompok jihadis pada umumnya, tidak seperti Al-Qaeda atau ISIS, yang membentuk perjuangan bersenjata secara eksklusif.
Hamas, seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir , meningkatkan aktivitas kekerasan sebagai strategi untuk menyertai negosiasi politik. Oleh karena itu, Hamas dapat mengikuti pemilihan umum dan duduk untuk bernegosiasi, sambil merencanakan dan melaksanakan aksi-aksi teror terhadap warga sipil dan militer, seperti yang dilakukan akhir pekan lalu ke Israel.
5. Klasifikasi Hamas sebagai kelompok teroris
Pelabelan Hamas hanya sebagai kelompok teroris yang merupakan hal yang rumit. Komunitas internasional, yang diidam-idamkan oleh badan-badan internasional, memang berupaya mengobjektifikasi dan menguraikan definisi terorisme secara ketat , namun klasifikasinya masih sumir.
Meski demikian, PBB bersama Uni Eropa, Amerika Serikat (AS), Kanada, Jepang, Australia, Paraguay, Organisasi Negara-Negara Amerika, dan Mesir tetap memasukkan Hamas ke dalam daftar organisasi teroris . Sementara negara-negara lain seperti Swiss, Norwegia, Rusia, Brasil, Turki, dan Cina, tidak dimasukkan.
Dengan mempertimbangkan hal-hal di atas, kita dapat melihat dengan jelas anomali dalam hal pengakuan Hamas sebagai teroris.
Ikhwanul Muslimin di Mesir , yang saat ini sudah dilarang, juga pernah menjadi gerakan politik yang sah di waktu yang berbeda dan di mata aktor-aktor yang berbeda pula.
6. Apakah ini sebuah gerakan politik?
Hamas menganggap dirinya (dan merupakan) sebuah gerakan politik. Bahkan, mereka memohon kepada Pengadilan Uni Eropa untuk menghapusnya dari daftar kelompok teroris Uni Eropa, yang sudah tercatat sejak tahun 2001.
Pada tahun 2014, Pengadilan untuk sementara mendesak Uni Eropa untuk menghapus Hamas dari daftar tersebut, meskipun akhirnya memutuskan pada tahun 2019 bahwa Hamas harus tetap berada dalam daftar tersebut. Ini membuat dana hamas terus menerus ketika terdeteksi.
Di Palestina, Hamas juga beroperasi sebagai partai politik. Puncak dari situasi ini terjadi pada tahun 2006, ketika Hamas ikut serta dalam Pemilu Palestina , bersaing dengan partai besar lainnya yang lebih sekuler, Al-Fatah, dan menang dengan suara mayoritas.
Namun, masyarakat internasional tidak mengakui hasil pemilu tersebut dan krisis internal besar lainnya pun terjadi. Hal ini membuat krisis belum sepenuhnya terselesaikan hingga kini dan membuat Al-Fatah berkuasa di Tepi Barat sementara Hamas, secara de facto , berkuasa di Gaza.
Meskipun pada tahun 2017 Hamas kembali mengakui Otoritas Nasional Palestina untuk memerintah di Gaza, pengaruh Hamas terhadap wilayah yang mempekerjakan lebih dari dua juta orang ini tetap signifikan.
Fragmentasi dalam kontrol keseluruhan wilayah Palestina oleh Otoritas Nasional Palestina (pemerintah yang diakui secara internasional yang mewakili seluruh rakyat Palestina), dan fakta bahwa Hamas menguasai Gaza secara de facto , merupakan argumen yang digunakan Israel untuk membenarkan kebijakan yang keras dan memasang barikade serta blokade di wilayah tersebut.
Dengan demikian, konflik yang telah berlangsung selama beberapa dekade ini bukannya mereda, malah semakin intens dan mengutuknya, dan kini berwujud upaya balas dendam Israel atas aksi teror terbaru Hamas"
Sumber berita
Gaza
Gaza


Komentar
Posting Komentar
Terima kasih nanti saya kembali di sini